Wednesday, October 25, 2017

#Story: Jangan Lupa Bersyukur

Selamat pagi,

Ijinkan gue sedikit berkisah tentang sakit gue.
Untuk beberapa hari sebelumnya gue dinyatakan terkena semacam Gastritis alias radang saluran pencernaan.
Menurut Dokter, penyakit ini kena ke gue karena kesalahan makan atau pola makan yang gak baik.
Melalui posting ini gue mau berkisah sedikit rahasia (mungkin) umum tentang gastritis di badan gue ini.

Mungkin beberapa dari elo paham istilah "body shamming" dimana keadaan seseorang yang (sebenernya) gak terlalu PD sama badan nya sendiri. Untuk Pria yang pernah punya berat sampai 110 KG, hal ini bikin gue gak nyaman.
Long story short, gue mulai diet.

Diet gue awalnya berlangsung lancar, bahkan bikin gue lebih bertenaga daripada sebelumnya. Gue mulai diet setelah kejadian gue masuk ruang "Enteroskopi" di RSCM untuk melihat tindakan enteroskopi Bapak gue, yang terkena penyakit infeksi saluran pencernaan. Setelah kejadian itu, gue melihat semua dosa dan refleksi diri gue sakitin dengan makanan yang "gak sehat". Gue mau merawat badan gue dengan hidup sehat.

Lalu, fase pertama diet gue terbilang cukup berhasil. Gue turun 15 KG dalam 1 bulan. dengan ngeganti makanan gue ke yang lebih sehat. Paling gak gue gak pernah makan mie instan sama minum soft drink lagi.
Karena hasil yang memuaskan, gue memutuskan untuk diet lebih "ekstrim" lagi, sampai pada akhirnya berat badan gue di bawah "toleransi" yang biasa gue alamin.

Ibu gue bilang kalo diet fase kedua gue malah kayak orang sakit bukan nya jadi lebih sehat. Pada akhirnya sampailah radang penceraan menyerang gue.

Atas penyakit ini, gue mulai sadar kalo "body shamming" itu salah satu bentuk kurang bersyukur manusia atas rejeki yang diberi oleh-Nya.

Dan, gue harus kembali ke fase awal diet gue, yang mungkin kali ini mempertimbangkan saran dokter.

Segala puji bagi Allah.

Tuesday, August 29, 2017

#Story: Lalu, Kapan?

Selamat petang,

Sebuah situasi mengantarkan gue kepada kondisi paling bawah,
Namun di saat manusia berada pada kondisi paling bawah, tidak selamanya kondisi itu buruk,
bahkan, jauh lebih banyak positifnya, yang jelas elo gak perlu takut jatuh tersungkur, karena elo udah di bawah.

Gue mengakui kalau sekarang gue berada pada titik terendah dalam hidup gue, dimana seorang mahasiswa yang sedang menempuh semester terakhir pendidikan tinggi.
Sebagai mahasiswa pascasarjana, waktu yang diberikan untuk menempuh masa pendidikan itu lebih minim dibanding sarjana.
Saat-saat semester terakhir begini, adalah situasi dimana elo harus berlari sekencang-kencangnya dan melewati garis finish sebelum tagihan semester berikutnya masuk ke pemberitahuan dashboard akun mahasiswa elo yang jumlahnya gak mungkin ke bayar pake 1 bulan gaji seorang fresh graduate yang kerja di perushaaan FMCG.

Namun, mumpung gue sedang di bawah, saatnya gue melangkah lagi ke atas, dan yang sedang berada di atas tentunya harus bersiap-siap dengan kedatangan gue.

gue terima semua prosesnya, gue jalani, dan gue yakini.

segala puji bagi Allah.

#Story: Kerja

Kerja,

Apa itu kerja?
Apa yang dikerjakan kerja?
Apa bedanya kerja dengan dikerjakan?
Apakah kita dikerjai?

Ada banyak sekali informasi yang disediakan untuk kerja.
Bersama tuntutan hidup yang tidak pernah cukup kepada orang.
Berkilas balik antara seseorang yang bekerja atau yang berada.
Menembus dinding perbedaan orang yang bekerja dengan orang yang mengharapkan pekerjaan.

Juang hampir sama spesies-nya dengan kerja
Yang membedakan hanyalah tujuan akhir dari kata-kata tersebut.
Entah kita berakhir dengan perjuangan, atau berakhir dengan pekerjaan.
lagi-lagi mengulang kata kerja.

Wednesday, July 26, 2017

#Story: Orang

Orang,

Sebuah kata kerja, suatu kata sifat.
Banyak sekali definisi mengenai orang.
Bisa menjadi suatu tata bahasa, atau suatu pembahasaan.
Tapi apakah kamu tau, "Apa itu orang?"

Suatu pemberdayaan yang menjadikan makhluk hidup disatukan.
Lalu, "apa gunanya orang?"
Apakah mereka yang memikirkan business model terkini?
Ataukah mereka yang memikirkan cara mencukupi pangan tiga kali sehari?

Lantas, ketika kita menanyakan suatu pertanyaan mengenai bentuk dan definisi "Orang".
Sesungguhnya kita bisa memaklumi, bahwa "Orang" merupakan makhluk tersendiri.
Makhluk yang berdiri sendiri, makhluk yang ingin menguasai.
Tidakkah kalian menyadarinya?

Orang bukanlah seperti yang engkau pikirkan.
Orang adalah mereka yang setiap hari hidup di dalam pengembaraannya.
Orang sama sekali tidak suka dikekang.
Jangan memaksakan orang untuk mengikuti orang.

Ketika Orang tersebut pulang.
Panjatkanlah doa agar Orang tenang dalam kenangannya.
Mengenang kehidupan Orang,
yang Orang sendiripun tidak tahu bagaimana cara menjadi Orang.


mym, 26/07/2017

Monday, May 08, 2017

#Story: Will You Involve???

Selamat Pagi,

Senyum,
Menyebar kebaikan itu tidak salah.
Memaksakan kehendak dan membuat orang lain tidak nyaman adalah suatu perbuatan yang tidak etis.
Masing-masing individu punya norma yang mereka ikuti. terkadang ada orang yang mengikuti satu norma yang sama, adapula yang berbeda.
Menurut gue, seseorang tidak baik apabila dia memaksakan orang lain untuk mengikuti norma yang menurut dia baik, padahal belum tentu orang lain menganggap bahwa norma yang dia coba tularkan itu baik.

Perbedaan hanyalah sebuah pandangan, hanyalah suatu persepsi.
Sangat tidak pantas seseorang menyebut perbedaan itu sebuah "dosa".
Tuhan menciptakan perbedaan atas kuasa-Nya. kita hanyalah manusia. kotor. penuh dusta. dan tidak pantas berbuat seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan.

Tuhan punya masterplan dari seluruh manusia,
kita sebagai manusia, yang baik, menyebarkan kebaikan.
menyebarkan cinta, menyebarkan empati.

"Spread love, like fire"

Will you involve???

Monday, November 07, 2016

#MusaStory: Well, Sebuah Cerita Untuk Kembali (Bukan Fitnah)

Hello,

Gue balik lagi, setelah postingan terakhir buat seri Japan Tour.
lebih tepatnya setelah 2 bulan gue mimpi untuk balik ke Jepang lagi.

Kabar kalian bagaimana? sehat? waraskah?
karena beberapa teman gue harus jatuh "sakit" dalam kurun waktu 2 bulan setelah postingan gue sebelum ini.

well, gue mau menginformasikan kabar baik aja.
karena kabar baik itu lebih sehat daripada fitnah hehehe.
jadi sebenarnya setelah gue sampai di Jakarta kembali dari Jepang.
awal maret gue ditawari kerjaan di sebuah bank asing, sebutan mereka sih untuk projek. sekarang gue udah gak kerja disana lagi. karena kontrak habis.
lalu gue mencoba mengasah kemampuan menulis gue di sebuah media independen (dalam artian media yang berdiri sendiri).
sembari gue melakukan pekerjaan tersebut, gue pun mencoba untuk ikutan tes pascasarjana di beberapa Universitas.

awalnya gue mencoba untuk beasiswa ke Jepang, namun gue sadar persiapan gue mepet. dan gue tau kalo persiapan mepet itu pasti hasilnya gak bagus. meskipun beberapa orang ada yang bilang, "orang pinter itu kalah sama orang beruntung" but i don't believe in luck. jadinya gue harus melakukan banyak persiapan.
karena gue bukan dari keluarga yang kaya raya. gue pun mencoba untuk realistis, sejujurnya TOEFL gue masih butuh peningkatan untuk lolos syarat administrasi beasiswa ke luar negeri. deadline daftar untuk univ di luar dan syarat beasiswa hanya berjarak 3 bulan.
lalu gue pun mengeluarkan rencana selanjutnya, yaitu gue ikut tes pascasarjana di tiga universitas negeri aja. sebut saja nama mereka dengan UI, UGM, dan ITB.

gue baru sadar ternyata untuk tes masuk pascasarjana itu beda banget sama S1, dan ada satu syarat yang biasa mereka pakai untuk daftar masuk pascasarjana. syarat tersebut bernama "Nilai TPA BAPPENAS"
gue yang orang awam kagak ngerti apa itu "TPA BAPPENAS" setau gue, Ayah gue pernah tes buat masuk S3. dan akhirnya gue pun ikutan les nya, di sebuah mall yang mereka sebut, Poins Square.
selama 9 jam dalam sehari gue duduk dan ngedengerin materi. menurut gue, tempat lesnya seru, gurunya juga inspiratif.

lalu, gue pun mengikuti tes SIMAK UI untuk jurusan Magister Ilmu Komunikasi, dan Admission Tes untuk MBA (Master of Business Administration) SBM-ITB.

Hasilnya gue keterima di dua duanya. sebuah prestasi yang menarik menurut gue. karena pas gue ikutan seleksi masuk mahasiswa S1, itu dua universitas, kagak ada yang mau nerima gue.
pada akhirnya gue pun memilih untuk kuliah (lagi) di SBM-ITB, alias School of Business and Management ITB (Insititut Teknologi Bandung). jurusan "General Business Management".

sejujurnya, belajar di sekolah bisnis adalah salah satu impian bahkan target gue setelah lulus, karena gue masuk di bidang yang sebenernya gak jauh beda sama prodi gue pas S1. dan ternyata jurusan ini menarik, seperti yang gue impikan dulu dimana gue mau belajar banyak tentang bisnis, bahkan entrepreneur itu sendiri. namun, gue sadar ada tanggung jawab yang besar di balik masa kuliah gue setelah S1.
ada sesuatu yang harus gue sisihkan waktu gue memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. akan tetapi gue gak menyesal sama sekali.

gue mendengar banyak sekali pendapat-pendapat, terutama yang berasal dari orang terdekat gue, yang bilang kalo gue salah langkah, seharusnya gue kerja dulu. dan sayangnya, mereka yang bilang itu tidak mengetahui alasan gue melangkah untuk masa depan.

Mereka.hanya.bisa.menerka.

keterima dan kuliah di institut yang lokasinya gak jauh dari UNPAD. itu rasanya kayak seorang pemain sepakbola yang pindah dari satu klub ke klub rivalnya. kayak pindah dari Chelsea ke Man.United, atau dari AC Milan ke Inter Milan, atau dari Atletico ke Real Madrid.

tapi gue sangat senang dan bersyukur.
mumpung gue masih diberikan umur dan kesehatan.
gue akan terus belajar. apapun. dimanapun.
untuk kebaikan bersama dan untuk gue secara personal.

beberapa target sudah gue pasang.
tinggal Allah yang akan menentukan restu-Nya.
semoga dilapangkan dan dilancarkan.

segala puji bagi Allah.

Sunday, August 14, 2016

#MusaTravel: Japan Tour 2016, Finale

20/2 (Finale episode start)

Pagi hari di Tokyo, hari terakhir dalam rangkaian perjalanan gue di Jepang, gue sedih dan berharap gue bisa tinggal lebih lama lagi di Jepang. setelah sarapan, jam 10 pagi gue langsung ke tempat terakhir yang mau gue kunjungin, yup, dia adalah Harajuku.
kenapa gue ke Harajuku di hari terakhir? karena ini hari sabtu, dan banyak banget yang lagi nikmatin Weekend nya. bener perkiraan gue, banyak banget orang yang cosplay di Harajuku. sayangnya mereka gak mau di foto hehehehe. anyway, gue ke harajuku sekalian mau ke Nike nya, pas gue sampe sana ternyata lagi rame banget, ada antrian di depan tokonya, karena gue gak tau ada apaan makanya gue ikut antri, sementara kakak gue muter-muter buat nyari oleh-oleh. pas toko dibuka, baru gue nanya ke abang abangnya, ternyata yang ngantri tadi lagi mau beli sepatu Air Jordan yang baru, limited edition, cuman 100 pasang aja. dan harganya sekitar 25.000yen alias hampir 3 jutaan lah. wah, sejujurnya gue belom siap buat beli sama pake Air Jordan hehehehe, jelas kemahalan buat gue. akhirnya gue memilih Nike Air Max aja hehehe. setelah beli sepatu, gue langsung ketemuan sama kakak gue di JR Harajuku, karena kondisi hujan deres, suhu di tokyo jadi dingin parah, untungnya kakak gue gak lama datengnya, jadi kita balik ke hotel untuk check out, lalu packing ulang. ternyata jadi berat banget tas gue, tapi Alhamdulillah barang aman.
Ibu gue sebelumnya udah nyaranin untuk naik taksi aja sampe Tokyo Station, ternyata ide yang bagus, karena tas nya berat banget, sejujurnya agak susah ngedorong apalagi ngangkat tas yang berat. pada akhirnya, untuk pertama kalinya gue naik taksi di Tokyo, ternyata jalanan tokyo bagus juga hehehe. sampai di Tokyo Sta, gue pun langsung reservasi untuk naik Narita Express. dan dengan berat hati, gue pun meninggalkan Tokyo dan Jepang. karena apabila kita berangkat dari Narita dan pulang lewat Narita, perjalanan ke airport itu agak jauh dan gak bisa kemana-mana lagi.
gue sama kakak gue pun berjanji bakal balik lagi, kali ini sama adek gue, atau bahkan satu keluarga full bakal balik lagi, ke Jepang, di musim dingin. sekali lagi, dan pada saat itu gue mau ke Fukuoka, Hakata, Kyoto, Osaka untuk lebih lama dan ke Sapporo.

Thank you, Japan. I'll you soon, very soon.

20/2 (Finale episode end)