Monday, May 14, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, Kala Kyoto Menggoda Kalbu (Day Four)

7 Februari 2018

I'm on a high tension for today.

Sewaktu gue merencanakan perjalanan ke Jepang untuk kali kedua. Hakata dan Kyoto adalah kota prioritas yang harus gue kunjungi. Sebenernya kunjungan gue ke kyoto hampir terjadi dua tahun lalu. Saat itu gue sama kakak gue masih punya satu hari kosong untuk jalan - jalan, namun kami pada akhirnya memilih untuk keliling Kanto termasuk ke Niigata. Karena pada saat itu gue masih belum paham seluk beluk Jepang. Mendekati keberangkatan ke Jepang, gue menonton banyak sekali travel guide video di youtube. Mereka menjelaskan kalo Kyoto itu "The Most Beautiful City in The World". gue semakin penasaran. Hal kedua yang memutuskan gue untuk pergi ke Kyoto adalah Kyoto University. Adek gue juga pengen melihat kampus tersebut.

Pagi hari yang cerah dan dingin di Osaka. Kami bergegas menuju stasiun Osaka untuk menuju Kyoto. Oiya, sebenernya ada beberapa cara menuju Kyoto dari Osaka, dari cara orang kaya sampe cara beg-packer alias turis miskin. Buat orang kaya, ke Kyoto lebih cepet daripada ngantri wahana Harry Potter di Universal Studio Japan. Tinggal ke Shin-Osaka terus naik Shinkansen aja. cuman 10 menit langsung sampe hehehehe. Buat orang yang pengen adventure, bisa pake bus wheller dari Osaka station. nah buat beg-pecker atau turis miskin, elo bisa nebeng. Karena arus kendaraan dari Osaka ke Kyoto sangat ramai. Mungkin banyak orang berbaik hati untuk memberikan tebengan.

Kami pake cara ekonomi menengah untuk berangkat ke Kyoto, dengan JR limited Express dari Osaka station menuju Kyoto pukul 7 pagi. Ini kereta penuh nya setengah mati, dan gak ada tempat duduknya hehehehe. Lantas, kami harus pasrah 20 menit berdiri untuk sampai Kyoto. Sesampainya di Kyoto, gue langsung cari kursi sejenak untuk beristirahat. dengkul gue udah mulai menunjukan tanda kalo bakal bengkak nanti malam hehehe.

Agenda pertama di Kyoto, kami mengunjungi Arashiyama. itu loh Dusun Bambu di Kyoto. Untuk menuju ke Arashiyama, kalian tinggal naik kereta dari Kyoto Station menuju Saga-Arashiyama Station selama 10 menit. Gue bersyukur ketika naik kereta, gue dapet tempat duduk. lumayan buat istirahatin kaki sejenak.

Sesampainya di Arashiyama, gue bener-bener gak tau mau kemana, karena stasiun nya berada di tengah perumahan di kaki gunung Arashi. Gue melihat map untuk turis, dan fokus ke tulisan "Bamboo Forest" di sinilah petualangan dimulai hehehe. Kami harus hiking alias jalan kaki selama 20 menit naik bukit untuk mencapai tujuan. Gue udah lama banget gak jalan naik bukit semenjak pindah dari Jatinangor. Gilanya kami mengambil rute yang cukup extreme dimana kami harus berputar lebih jauh untuk mencapai Sensoji Temple.

Gue takjub sekaligus menggigil di Arashiyama. yaiyalah, lagi musim dingin malah jalan-jalan ke gunung. Coklat panas kalengan yang jadi penghangat tangan langsung berubah menjadi coklat dingin. Tangan kanan gue yang pegang kamera rasanya kayak digigit semut merah. Perih banget.

Di Arashiyama, kami jalan kaki terus menerus, menikmati keindahan Sensoji Temple. Kami sempat berkunjung ke beberapa pusat oleh-oleh dan teh hijau. Gue adalah peminum teh hijau kelas berat. Kalo ke Kyoto wajib rasanya untuk beli, makan, dan minum segala jenis green tea. Mulai dari Matcha sampe Sencha. Semua enak banget. 2 jam kami berada di Arashiyama. Kaki gue sudah bisa di vonis bengkak setengah. Kami harus bergegas menuju Kyoto station, karena ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi.

Agenda kedua di Kyoto adalah mengunjungi Kiyomizudera, sebuah temple di atas bukti (lagi). Karena gue pertama kali ke Kyoto, maka tempat yang gue kunjungi masih termasuk mainstream. Sesampainya kami di Kyoto station, kami ikut antri untuk bus menuju Kiyomizudera. Antrian nya panjang banget. Gue melihat beberapa turis menggunakan Kyoto One Day Pass untuk Bus, alias tiket terusan untuk naik bus di Kyoto sepuasnya. Gue gak sempet beli itu, walaupun gampang sih belinya hehehe. Gue mengandalkan ICOCA sebagai pembayaran.

Kami lagi-lagi harus jalan kaki menuju puncak bukit untuk mencapai pintu gerbang Kiyomizudera. sesampainya disana, sejujurnya gue kecewa, karena spot foto yang gue impikan gak ada, karena kuil tersebut lagi di renovasi. Akan tetapi sebagai gantinya, gue dapet foto landscape Kyoto dengan sangat indah. Kyoto adalah kota yang sangat indah. Tradisi lama dan baru bercampur di Kyoto. Gue sangat menikmati kota ini, walaupun kaki gue sakit dan hawa dingin yang menusuk.

Satu hal yang bikin gue jatuh cinta kepada Kyoto adalah San-nen Zaka dan Ninen-Zaka. Sebenernya tempat tersebut gak spesial sih buat orang-orang, tapi ambience di dua tempat tersebut sangatlah "Jepang" dan "Kyoto". Ketika elo kesana gue rasa elo bakal mengerti maksud gue apa hehehe.

Agenda ketiga di Kyoto adalah mengunjungi Kyoto University. Kampus nya gak jauh dari Gion. Bus yang dinaikin juga gak ribet. Kami menuju Kyoto Univ, saat diperjalanan, kami bertemu turis Indonesia, dia sempet bertanya tentang Jepang ke gue, karena dia baru pertama kali ke Jepang. Lucunya, kami dikira mahasiswa Kyoto Univ, karena kami akan berhenti disana. Para turis tersebut semakin percaya kalo kami mahasiswa Kyoto-Dai ketika cuman kami yang berhenti di halte Kyoto University. Buat gue, semoga kejadian tersebut bakal jadi doa dan motivasi untuk merealisasikan mimpi gue kuliah S3 di Kyoto University.

Gue takjub sama Kyoto University. Gue jatuh cinta, gue harus kuliah disana.

Kami berkeliling kampus untuk mencari informasi. gue menemui beberapa pihak yang bisa diajak diskusi mengenai research untuk disertasi gue yang tema nya "Cross Cultural Leadership". Gue makin excited ketika mereka merespon positif penelitian gue. Namun, gue harus mendapatkan beasiswa terlebih dahulu. Semoga mimpi gue bisa jadi kenyataan. aamiin.

Setelah diskusi, kami berkeliling kampus dan mengunjungi semacam koperasi mahasiswa. ternyata gede banget koperasi nya, satu gedung isinya kayak mall, dari baju sampe alat mandi pun ada. Elektronik kayak gadget juga dijual di Koperasi Mahasiswa Kyoto Univ. Gue makin bersemangat untuk kuliah disini. Gue sadar, yang kuliah di Kyoto Univ bukanlah orang sembarangan. Pasti usaha mereka lebih baik dari orang rata-rata. Gue harus berjuang.

Setelah selesai di Kyoto University, kami memutuskan untuk balik ke Osaka. Sejujurnya kaki gue udah bengkak di bagian dengkul karena kami gak berhenti jalan kaki kesana kemari. Gue memutuskan untuk memakai cara orang kaya menuju Osaka, dengan menggunakan Shinkansen, yup, Green Car! hehehehe

Kyoto akan selalu crowded, mereka yang pertama kali ke Kyoto, pasti jatuh cinta. Selayaknya menemukan cinta hidup mereka untuk pertama kali nya. Kalian harus mengunjungi Kyoto, paling tidak sekali seumur hidup.

Ada kejadian lucu sekaligus gila, dari Kyoto kami menggunakan Shinkansen menuju Osaka. Perjalanan hanya 10 menit, namun kami sangat lapar, dan kami sudah membeli ekiben. Mau gak mau kami harus menghabiskan makanan tersebut dalam waktu 10 menit. Semenjak tubuh gue mengecil, gue gak bisa makan cepet lagi. gue kelabakan beres-beres tas untuk turun dari Shinkansen. Sementara adek gue udah selesai makan, dan ready to go.

Malamnya, kami memutuskan untuk keliling Osaka, dan mengunjungi Square Enix Cafe yang berada di stasiun Umeda. Konsep nya keren, sangat banget gue gak belanja disana. Karena harga merch nya gak terlalu bagus hehehe.

Tapi hari ini adalah hari terbaik dalam hidup gue, walaupun kaki bengkak.
Gue sangat menikmatinya. Di sisi lain, gue sedih karena besok kami harus pindah ke Tokyo.
Yang artinya sebentar lagi liburan kami akan berakhir.

Dear God, izinkan gue kembali lagi ke Kyoto ya.

paling tidak untuk jangka waktu yang sangat lama.

amen.

#MusaTravel: Japan Tour 2018, Kali Kedua.... Osaka Disertai Tragedi Tanggul Jebol (Day Three)

6 Februari 2018

Kami tau waktu check out hotel sekitar jam 11 siang. Tadinya kami mau check out lebih cepat, dan menaruh koper besar di loker yang ada di stasiun. Akan tetapi, Adek gue bilang, "I'd like to live dangerously bang, kita taro kamar aja tas nya, kita usahain sampe hotel lagi jam 11." karena ditantang seperti itu, ya sudah. let's get it on!

Kami berangkat menuju Dugout Yahuoku Dome sekali lagi pukul 9 pagi. Bus nya penuh, dan cuaca di Fukuoka sedang hujan salju. Sampai di Yahuoku Dome pukul 10 tepat, toko sudah buka, gue pun bersemangat. Akhirnya gue membeli jersey Home Softbank Hawks yang warna putih. Sebenernya gue udah punya yang fanclub edition, karena bahan nya jaring-jaring, jadinya kayak bencong banget itu baju hehehe.

Pada perjalanan menuju Yahuoku Dome hari ini, gue mengenakan jaket varsity yang gue bawa dari Jakarta. Ternyata badan gue malah tambah menggigil karena jaket tersebut lebih tipis dari jaket yang gue pake ke Nagasaki. Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya gue putuskan untuk membeli jaket winter Baseball Softbank Hawks. Keren sih design nya. Kalian bisa liat di instagram gue: http://instagram.com/myusufmusa #promote #hehehe

Setelah bayar belanjaan, gue langsung pake itu Jaket. Kegantengan gue meningkat, sekaligus diliatin orang dikirain atlet Softbank Hawks hehehehe. Gue juga agak takut sebenernya pake jaket tersebut, karena gue mau ke Tokyo Dome beberapa hari kemudian.

Karena waktu sudah tidak memungkinkan, kami tidak bisa berlama-lama di Yahuoku Dome. Gue belom sempat foto disana, tapi udah dapet beberapa foto landscape nya. Kami harus buru-buru kembali ke Hotel untuk check out dan mengambil koper. Lalu sebuah tragedi terjadi disini. Karena adek gue punya prinsip untuk live life dangerously, kami bener-bener dihadapkan dengan kondisi dangerous. Bus yang kami tumpangi menuju hotel ternyata tidak diperbolehkan melewati jalan toll, mau tidak mau, estimasi waktu sampai ke Hotel harus bertambah, sementara kami deg-degan dengan waktu yang terus berjalan. Gue gak berhenti melihat jam tangan gue. Setelah bus mendekati Hakata Station, gue mencoba untuk mengecek kembali kartu kamar hotel. TERNYATA GAK ADA!!
Gue mencoba untuk tetap tenang dan bertanya ke Adek gue, ternyata kartu nya gak ada di dia juga, sesampainya di Hotel, kami minta maaf dan minta dibukakan kembali kamar kami untuk mengambil tas. Beruntung sekali sang resepsionis baik hati. Anyway, Kami terlambat check out selama 5 menit.

Setelah berhasil check out, kami langsung menuju Stasiun untuk reserve tiket shinkansen menuju Osaka. Hal yang paling seru terjadi ketika gue melihat layar pengumuman kalo Shinkansen banyak yang delay dikarenakan rel nya tertutup salju. Badai salju memang sedang melanda Jepang, membuat beberapa daerah menjadi krisis bahan pangan seperti di Fukui. Bersyukur sekali kami mendapatkan jadwal Shinkansen pukul 1 siang, dimana kami gak perlu buru-buru naik kereta dan masih sempat beli makanan. Pada saat kami menunggu kereta, Hujan salju mendadak makin deras. Beruntung sekali gue memakai jaket yang lebih tebal, karena tangan gue perih lagi.

Kami masuk Shinkansen menuju Osaka. Gue menghela napas panjang, berat rasanya untuk meninggalkan Hakata, kota dimana lebih banyak turis dari Korea daripada Eropa. Salah satu kota dengan perkembangan paling cepat di bagian Kyushu. Gue sebenarnya kecewa karena gak bisa masuk ke Teater HKT48, dikarenakan tempat tersebut masih direnovasi. Akan tetapi, suatu saat gue akan kembali ke Hakata. Mampir sejenak untuk Softbank Hawks dan HKT48.

Shinkansen pun berangkat. Tulisan "Hakata Station" dan bentuk bangunan di Hakata perlahan mengecil. Perjalanan yang sangat emosional di Kyushu, dimana gue melihat apa yang gue belum pernah lihat. Dari ajaib nya pembangunan kota yang sempat rata dengan tanah, hingga manusia yang bunuh diri di Nagasaki. Waktu terasa sangat cepat, penantian gue selama dua tahun harus berakhir dengan perjalanan di Fukuoka selama tiga hari. Di sisi lain gue juga excited, karena untuk kali kedua gue ke Osaka dan kali ini gue akan mengunjungi Kyoto.

Perjalanan dari Hakata ke Osaka sekitar 2 jam 20 menit. Gue isi dengan makan dan merenung, gue masih gak bisa menghilangkan pandangan orang yang bunuh diri di Nagasaki. Sebenernya gue gak mau merusak liburan, namun peristiwa tersebut jadi sebuah peringatan buat gue akan apa yang gue lihat. Setelah ini, gue hanya memikirkan kesenangan yang akan terjadi.

Satu hal yang sebenarnya bikin gue risih pada perjalanan gue ini adalah badan gue yang lebih kurus dibandingkan kunjungan ke jepang dua tahun lalu, dimana saat itu berat badan gue sekitar 95 kg (gue gak becanda loh, I'm a big guy at that time) dan sekarang berat badan gue 78 kg, hal itu membuat tubuh gue lebih sensitif, terutama pada suhu dingin. Gue ngerasa ada bengkak di sekitar pipi dan bibir yang gampang pecah. Begitu juga ketika suhu turun drastis, tangan gue langsung perih kayak digores silet. But, ya whatever happened gue harus menikmati perjalanan ini.

Adek gue terlihat sangat menikmati setiap ekiben yang kami beli. Apalagi ekiben yang kami beli di Hakata Station isinya Chicken Karage dan Salmon goreng. Adek gue selalu bilang, "wah gila ini enak banget bang!"
Oiya, pada perjalanan kali ini, gue lebih berani untuk nyobain ekiben, yaitu bento yang dijual di setiap stasiun, karena ciri khas ekiben masing masing stasiun itu beda beda. Meskipun gue harus teliti dengan bahan yang mereka sajikan. Kadang-kadang gue menggunakan google translate camera buat memastikan kanji yang gue baca gak salah. Atau kalo misalnya di "ingredients" ekiben tersebut ada tulisan "肉" atau daging, gue pasti tanyain dulu daging apa. Setelah aman, baru ditakis hehehe. 
Setelah makan, gue jadi ngantuk, dan biasanya sih jadi ketiduran. Sedikit cerita, pada perjalanan kali ini, gue sudah punya... *ehem* Wanita pendamping di Indonesia hehehe. Dia lagi kerja, karena waktu di Jakarta beda dua jam. Gak masalah buat kami. Justru kencang nya internet di jepang, gue lebih sering video call sama dia. Lumayan sekalian live report ke Ortu gue juga hehehe.

Gue terbangun setelah terowongan panjang untuk berhenti di Shin-Kobe. Artinya sebentar lagi akan sampai kembali di Osaka. Dua tahun yang lalu gue sempet mengunjungi Osaka, namun pada saat itu gue cuman one day trip aja, dan balik lagi ke Tokyo. Perjalanan di Osaka dua tahun yang lalu pernah gue post disini ---> https://www.musamusa93.com/2016/02/musatravel-japan-tour-2016-osaka-episode.html
Gue sengaja merencanakan perjalanan kali ini untuk menginap di Osaka, gue sangat mencintai Dontonbori Namba pertama kali nya gue kesana, waktu itu siang hari. Gue ngerasa kalo malam hari pasti sangat fantastis.

Sesampainya di Shin-Osaka station, kami langsung menuju Nippombashi station dengan subway. Sejujurnya pergi dengan menggeret tas besar, sangatlah melelahkan hehehe. Belum lagi kondisi naik-turun tangga di setiap stasiun. Hotel gue di Osaka bernama Sunroute Hotel Osaka Namba. Sejujurnya lokasi hotel ini bagus banget. Harganya lumayan sih menurut gue, kenapa gue booking disini, karena gue dapet voucher 70% dari agoda. Awalnya gue gak ngebooking di Sunroute karena harganya gak masuk budget gue, tapi setelah gue dapet voucher. gue langsung memindahkan hotel untuk kunjungan di Osaka ke Sunroute.
Sejujurnya gue deg-degan dengan fans fanatik nya Hanshin tiger. Gue hampir dilabrak sama beberapa orang "homeless" dengan atribut Hanshin Tiger. ini terjadi karena jaket yang gue pakai adalah atribut fans Softbank Hawks. Untungnya ada polisi yang lewat, orang tersebut langsung lari. Alhamdulillah gue aman saat itu.

Setelah check in, kami beristirahat untuk sebentar sebelum menjelajah Osaka lebih jauh. Agak sore nya, kami berkeliling Osaka, dari Umeda, Osaka, hingga Namba. Ketika malam tiba, dari hotel kami berjalan kaki menuju Dontonbori. gang di dontonbori sangat istimewa, isinya tukang jualan makanan semua. dan di dontonbori ada takoyaki terkenal, untuk membelinya saja harus antri lebih dulu.
Saat kami sedang jalan-jalan, mata gue langsung tertuju pada kaki kepiting besar. Gue pengen banget nyobain, tapi gue takut gatal gatal. Pada akhirnya kami memutuskan untuk makan bento dari sevel aja.

Malam yang sungguh indah di Dontonbori. Gue sempet menonton showcase dari idol group Kamen Joshi.

Gue gak rela untuk menghabiskan malam dengan cepat, makanya kami memutuskan untuk mampir lagi ke Teater NMB48. Gue udah lama gak ngikutin kabar mereka. Karena NMB48 sangat jarang variety show nya di TV. Oshi gue di NMB48 juga udah gak ada.

Memang banyak sekali hal yang berubah selama dua tahun.
Esok akan datang dengan hal yang lebih seru lagi.

Kyoto, untuk pertama kali gue jatuh cinta.

Thursday, April 12, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, Jangan Ada (Lagi) Nagasaki Di Antara Kita (Day Two)

5 Februari 2018

Kami memulai perjalanan menuju Nagasaki sedikit telat karena badai salju. Kami yang awalnya reserve kereta pukul 09:00 JST, harus memundurkan jadwal jadi 10:00 JST. Pagi yang sangat dingin di Hakata, mulut gue udah berasap terus sedari gue keluar hotel, jalan kaki menuju stasiun. Gue melihat thermometer di stasiun menunjukan angka -1 derajat. Jaket yang gue pakai dari kemarin benar-benar tidak mampu menghangatkan paling tidak bagian torso gue. Dingin terasa menembus kalbu hehehehe.

Gue melihat tukang ramen dan udon di peron stasiun. Wangi yang sangat harum, adek gue sempet bertanya kalo di Hakata ini ramen nya boleh dimakan apa enggak, jawaban gue tetap enggak, malah lebih gak mungkin. Karena majoritas ramen yang ada di Hakata, Fukuoka pasti "Tonkotsu Ramen" sebagai kearifan lokal mereka. Begitu juga Udon dengan kaldu "Chashuw" alias daging babi panggang nya. Kenapa gue tau hal kayak gini? karena gue sering nonton acara travel to japan gitu hehehe, lumayan buat nambah informasi. Akhirnya kami menunggu kereta dengan memeluk dua botol hot chocolatte dari vending machine. Paling tidak tangan kami tidak membeku seraya berharap kereta datang lebih cepat.

Pukul 09:50 JST kereta yang kami tunggu tiba juga, nama kereta nya "Kamome", kereta dengan gaya futuristik termasuk ke dalam jajaran kereta cepat di Jepang, namun kelas nya bukan Shinkansen, karena top speed nya cuman sampai 130 km/h. Anyway, kelas kereta Kamome ini setara limited express alias kereta semi-Shinkansen, dan model kereta Kamome adalah yang diadu sama Jepang dan China untuk membangun nya di Indonesia pada trayek Jakarta - Bandung.

Kami langsung masuk ke gerbong green class yang telah dipesan sebelumnya. Interior kereta ini sangat old school dan menurut gue terlalu kuno untuk green class nya hehehehe. Begitu kereta jalan, gue mencoba untuk menelusuri kereta ini, dan ternyata menurut gue, ordinary class nya lebih nyaman daripada green class. meskipun green class punya toilet sendiri. Perjalanan kami menuju Nagasaki ditempuh selama 1 jam 50 menit. Selama perjalanan, entah kenapa gue kedinginan, padahal heater di kereta cukup tinggi suhu nya. Tolak angin yang gue minum terasa tak berdaya pada perjalanan gue di Kyushu. Kereta Kamome dilengkapi vending machine di gerbong nomer 5 dan selasar pada setiap pintu masuk gerbong. Selasar pada kereta Kamome ternyata berfungsi untuk penumpang yang ingin mengangkat telepon atau mereka yang sekedar ingin menghangatkan diri aja.

Sesampainya di Nagasaki, kami disambut oleh Hujan salju yang cukup tebal. Gue takjub sama Nagasaki, kota nya sangat berbeda dari beberapa kota di Jepang yang pernah gue kunjungin. Nagasaki punya yang namanya "Street car" atau kalo orang Indonesia nyebutnya "Trem" ituloh kereta listrik yang rel nya di tengah jalan. Pembayaran di Nagasaki juga menggunakan IC card, namun jangan harap kalian bisa memakai Suica atau sejenisnya, hal ini dikarenakan Nagasaki Government sedang mencanangkan diri sebagai kota mandiri, memproduksi barang dari baju hingga IC card. IC card di Nagasaki adalah khusus penduduk setempat. Traveler bisa juga kok membeli nya, namun harganya agak mahal, sekitar 3,000 yen atau 350 ribu Rupiah. Fungsi IC card ini untuk sementara hanya sebagai pembayaran transportasi saja. IC card belum dapat digunakan untuk berbelanja.

Dari Nagasaki Station, kami langsung menuju Atomic Bomb museum. Nagasaki adalah kota bersejarah, karena Kota ini pernah rata oleh bom atom pada tahun 1945. Gue sebelumnya cuman baca sampai kenapa Jepang menyerah pada "Sekutu" aja, gak sampai alasan Nagasaki di bom atom.
di Atomic Bomb museum ini ternyata selalu marak kampanye senjata dengan berbahan nuklir. Di museum ini, dijelaskan semua nya.

Dalam sudut pandang kemanusiaan, pada saat perang gak boleh membunuh warga tidak berdosa, apalagi sampai nge bom kota tersebut hingga penduduknya musnah. Serius, kata "musnah" disini adalah real, karena US alliance udah gak sanggup lagi nahan napsu mereka sebagai jawara Perang Dunia ke-2.

Nagasaki dijadikan sasaran bom atom karena salah satu gudang senjata terbesar di Jepang. Sebetulnya ada beberapa kandidat kota di Jepang yang menjadi sasaran, dan salah satunya adalah Kyoto.

Diorama dan bentuk bom atom tersebut dipajang oleh Museum. ada juga data penggunaan senjata nuklir, dimana USA pengguna senjata nuklir terbanyak. Sementara Korea Utara yang sering diberitakan, termasuk negara dengan penggunaan senjata nuklir tersedikit. Dimana USA menggunakan sekitar 157 misil, Korea Utara sekitar 20 misil. Media sudah membohongi masyarakat.

Setelah gue melihat-lihat Atomic Bomb Museum, gue sebagai perwakilan dari Indonesia, berikrar untuk melawan penggunaan nuklir pada senjata dan peperangan. Perdamaian harus disebarkan ke seluruh dunia. Perang harus berhenti. Gue adalah salah satu dari warga dunia yang menandatangani petisi anti senjata nuklir di Dunia.

Nagasaki adalah kota yang indah. 73 tahun berjuang membangun kembali peradaban dan warga yang "selamat" dari bom atom. Gue mengunjungi taman-taman yang sangat rapi. Setelah puas dengan Nagasaki day trip selama 6 jam. gue memutuskan untuk kembali ke Hakata.

Disinilah inti cerita hari ini, disaat gue sedang di kereta menuju Nagasaki Station, kami melewati jembatan yang cukup panjang, bentuknya gak beda sama Pasopati. Lalu, gue melihat ada seseorang yang berjalan di sana, awalnya gue mengira orang tersebut sedang jalan-jalan santai. Tiba-tiba pria tersebut naik ke pembatas jalan lalu menjatuhkan diri terjun ke laut.

Gue shock, sementara penumpang lain nya gak sadar kalo ada orang yang bunuh diri di jembatan tersebut. Kunjungan ke Nagasaki masih berbekas sampai tulisan ini diturunkan. Kenapa ada manusia yang seperti itu ya?

Gue berharap jangan ada lagi Nagasaki di antara Kita, entah apapun kejadian nya, mau itu bom atom atau orang yang bunuh diri.

Setelah melihat orang bunuh diri, gue malah gak bisa fokus, waktu menunjukan pukul 14:30. Kami hampir ketinggalan kereta karena antrian tiket yang lama. Jadi ceritanya, ada sepasang lansia ingin menukar tiket keberangkatan, namun proses nya agak lama. Gue menyuruh adek gue untuk menunggu di dekat pintu keluar supaya bisa langsung lari masuk kereta karena waktu keberangkatan udah mepet. Ternyata dugaan gue benar, si Petugas ngasih tiket untuk pukul 14:45, dimana saat itu kereta harus berangkat. Kami langsung lari kayak orang kesurupan, karena suara bel kereta berangkat sudah berbunyi. Beruntung sekali kami, setelah masuk kereta, pintu langsung tertutup saat itu juga. Jika kami tertinggal, kami harus naik kereta selanjutnya pukul 4 sore, dan menurut perkiraan cuaca, malam ini ada badai salju di sekitaran Kyushu.

Sesampainya di Hakata, ternyata adek gue gak ngeliat kejadian orang bunuh diri tersebut. Gue hanya bisa berdoa, supaya kami selamat dalam perjalanan hingga pulang ke Indonesia. Kami sampai di Hakata sekitar pukul 5 sore. Gue masih ingin jalan-jalan keliling Fukuoka, dan beli beberapa merch Softbank Hawks membuat kami langsung bergegas menuju Dugout di Yahuoku Dome. Cuaca sore yang menurut gue sangat dingin, membuat gue meringis kesakitan. Serius, rasanya kayak disilet tapi gak berdarah. Rasa sakit gue bertambah ketika kami membaca papan informasi kalo toko merch tersebut tutup dan baru buka kembali esok hari. Gue baru inget kalo bulan Desember sampai Februari itu emang waktu libur musim dingin untuk klub baseball di Jepang. Musim berikutnya baru dimulai sekitar bulan Maret hehehehe. Dengan rasa kecewa kami balik ke Hotel, untuk merencanakan perjalanan esok hari.

Cuaca yang sangat dingin di Hakata, gue merasa kalau malam nya kami gak boleh keluar Hotel, kami beruntung sudah mempersiapkan bekal untuk esok hari dan esok pagi. Perkiraan cuaca tersebut benar, malam itu Hakata badai salju, suhu sampai - 5, dan orang Indonesia dilarang keras ke luar hotel hanya dengan sarungan aja.

Esok hari kami harus sudah check out dan berpindah hotel ke Osaka. Akan tetapi, gue gak mau pulang dengan tangan kosong di Hakata. Akhirnya kami merencanakan tetap nekat ke Yahuoku Dome sekali lagi untuk belanja merch Softbank Hawks.

I'm a big fan, and no one can stop me. LOL!

Thursday, March 01, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, Menginjak Hakata - Menjamah Fukuoka (Day One)

4 Februari 2018

Pukul 08:30 JST, Pesawat Garuda Indonesia yang gue tumpangi berhasil mendarat dengan selamat di Tokyo International Airport alias Bandara Haneda. Setelah proses landing, Pesawat masih harus menunggu masuk ke apron buat "parkir", dan memakan waktu sekitar 20 menit. It's okay, karena I just landed in Japan!!!

Setelah keluar pesawat, hawa dingin dan "wangi khas Jepang" langsung tercium. Hal ini yang bikin gue selalu rindu untuk balik lagi ke Jepang. Entah kenapa air mata gue sedikit mengalir. Anyway, jalan kaki dari keluar pesawat sampai ke Imigrasi lumayan jauh. Tapi karena pagi hari, Bandara tidak begitu ramai, dan gue bisa merasakan semangat Jepang saat itu.

Karena ini adalah kunjungan gue yang kedua kalinya, proses imigrasi gak seribet waktu pertama kali gue ke Jepang. Petugas langsung percaya begitu aja, karena ada bukti stiker visa gue di Jepang dua tahun yang lalu. Sementara itu Adek gue harus menjawab beberapa pertanyaan dari Petugas imigrasi. Everything is alright. Gue langsung menuju ke Baggage claim, dan disini rupanya agak lama kami menunggu koper keluar pesawat, tidak secepat di Narita.

Setelah urusan di bandara selesai, kami langsung menukarkan voucher JR Pass. Ternyata gue baru sadar kalo JR Pass tersebut cuman berlaku sampai hari sabtu tanggal 10 Februari nya apabila gue aktifkan hari ini. Ya gapapa, karena gue mau langsung ke Fukuoka dari Bandara Haneda.
Buat kalian yang mau traveling ke Jepang, gue punya rekomendasi aplikasi yang bagus biar gak nyasar disana. Nama nya "Japan Transit Planner" #promote hehehe. Aplikasi tersebut sebenernya mirip banget sama Hyperdia, cuman lebih bagus secara tampilan nya, dan juga nyaman dipakai karena kalian ngecek nya lewat smartphone bukan browser seperti hyperdia. Enough for promote section hehehe.

Pukul 09:30 urusan JR Pass selesai. Karena gue masih nyimpen Suica dari dua tahun yang lalu, gue memutuskan untuk top up kartu tersebut dulu. gue juga mengambil uang yen di ATM yang menurut gue lebih aman daripada harus nukerin duit di Jakarta. Setelah semua urusan di bandara (benar-benar) selesai. Kami pun langsung menuju Shinagawa Station untuk menaiki Shinkansen menuju Hakata. Well, sebenernya gue agak gila merencanakan perjalanan kali ini. Karena posisi Hakata itu sekitar 5 jam naik Shinkansen dari Tokyo. Namun apa daya, perjalanan harus diteruskan, dan rasa penasaran akan Kyushu harus terbayar.

Dari Haneda Airport menuju ke Shinagawa itu ternyata lebih enak naik Limited Express nya Keikyu Train dengan durasi 14 menit kalo kalian mau langsung ke Osaka, Kyoto, atau Nagoya. Setelah sampai di Shinagawa, gue langsung booking Shinkansen Hikari menuju Shin-Osaka untuk transit sejenak sebelum gue booking lagi tiket ke Hakata naik Sakura Shinkansen. Adek gue ter-cengang untuk pertama kali nya melihat dan merasakan kereta cepat Shinkansen. Sesungguhnya adek gue itu technology geek, yang awalnya cuman bisa ngeliat gambar Shinkansen aja, sekarang dia berhasil nyobain naik Shinkansen. Anyway, total perjalanan kami ke Hakata sekitar 5,5 jam. Di mana kami transit di Osaka untuk beli makan siang.

Perjalanan tiga jam diselimuti oleh angin dingin Jepang. gue baru sadar saat ngecek laporan cuaca di daerah Kyushu, bahwa disana emang lagi dingin banget. Yasudahlah, mari kita rasakan sedingin apa orang Jakarta kuat menahannya hehehe. Rasanya sangat menyenangkan untuk kembali merasakan perjalanan dengan Shinkansen. Wangi Shinkansen dengan audioland di setiap stasiun, begitu juga dengan suara dengung sang masinis yang mencoba untuk menjelaskan waktu kedatangan kereta pada stasiun berikutnya. Semua itu bisa terdengar lagi, dan gue merasa stress gue perlahan hilang.
Sesampainya di Osaka, gue gak terlalu buru-buru untuk booking kereta selanjutnya. Rasa lapar karena belum makan dari pagi sedikit menggangu. Kami mencoba untuk membeli ekiben yang aman, dan semua jatuh kepada Ekiben salmon. untungnya adek gue mau nyobain makanan baru. Setelah beli ekiben, gue penasaran untuk mencoba Kobe beef sandwich yang kata orang-orang di seluruh dunia itu makanan paling enak. Setelah keliling stasiun, akhirnya gue menemukan nya. Well, harganya lumayan mahal juga untuk ukuran sandwich, sekitar 1,800 yen atau sekitar 200 ribu rupiah. Tapi kita cobain rasanya worth it apa enggak.

Kami reserve shinkansen menuju Hakata untuk pukul 14:20. Kami beruntung karena Shinkansen jadwal sebelumnya tidak beroperasi karena alasan teknis, lalu kami menunggu Shinkansen datang di peron. Cuaca Jepang yang sangat dingin menurut orang Indonesia, bikin kulit gue rasanya kayak disilet tipis. "perih banget bro!", padahal gue udah pake sarung tangan. ternyata dingin nya bikin jari tangan gue gak bisa megang hape sekalipun. Setelah kereta datang, kami pun langsung masuk ke gerbong yang hangat. Adek gue ternyata sudah kelaparan. Dia langsung menyantap ekiben tersebut. Perjalanan yang sangat menyenangkan. Ekiben yang nikmat, dan setelah gue cobain, Kobe beef sandwich itu enak gila! hehehe, elo semua harus coba. Even though it's a little bit pricey.
Karena gue baru pertama kali naik Sakura Shinkansen menuju Hakata, gue gak tau bagaimana keadaan jalur yang mereka tempuh. Kereta ini katanya akan melewati Hiroshima dan Kobe. Setelah kereta meninggalkan Osaka, kereta langsung melewati terowongan panjang. Tiba-tiba kami melewati Kobe, dan begitu terus kejadian nya sampai gue tertidur pulas karena efek capek menggeret koper dan kenyang.

Pukul 17:00, gue terbangun karena mendengar audioland, kereta sudah dekat dengan Hakata. Akhirnya gue berhasil menginjak kota ini, dan berhasil mencapai fukuoka, kyushu. Setelah kereta berhenti. Angin dingin langsung menerpa kami. gue akui kalau gue salah beli jaket. jaket yang menurut gue cukup tebal, ternyata dibuat tidak berdaya oleh cuaca hari ini. gue juga kaget melihat perkiraan cuaca di Fukuoka yang mengatakan minus 4 derajat (-4). Gila banget, gue yang gak pernah menggigil sebelumnya jadi tak berdaya. Akan tetapi, karena gue sudah di Hakata, gue melawan rasa dingin tersebut dengan hati gembira #apasih #wkwkwk

Salah satu tujuan gue ke Hakata adalah menyempurnakan AKB48 Group Theatre Tour yang sudah gue lakukan sejak 2016, dan HKT48 adalah tujuan terakhir gue di Tour ini. Begitu keluar stasiun Hakata, kami langsung mencari hotel Richmond. Lokasi nya yang strategis, sangat mudah buat gue bernavigasi dari Stasiun Hakata menuju lokasi tujuan gue. Check in di Hotel Richmond juga gampang. Namun, Kamar nya sangat kecil untuk ukuran dua orang. lebih gede kamar gue di kosan Red House hehehehe.

Setelah check-in, kami pun beristirahat. Gue merencanakan untuk mengunjungi salah satu tempat yang sangat gue ingin kunjungi di Fukuoka. Itu bukan teater HKT48, tapi Fukuoka Yahuoku Dome. Tempat dimana Fukuoka Softbank Hawks berkandang. dan gue sangat exited.

Pukul 19:00, Kami selesai dengan urusan kamar dan bersih-bersih. gue langsung ngecek ke website Softbank Hawks bagaimana cara menuju Yahuoku Dome, lalu gue menemukan bahwa akses kesana lebih dekat dengan Bus. Okay, challenge accepted. Untuk pertama kali nya gue langsung naik BRT ke Yahuoku Dome. Nekat, karena gue gak tau sama sekali jalanan di Fukuoka. Tapi karena rambu-rambu nya udah jelas jadi kita pasrahkan saja ya hehehe.

Jepang ini emang gila ya untuk urusan transportasi, di Hakata sendiri, semua moda transportasi disambung jadi satu, dan Hakata Station jadi pusat nya. Bus, Kereta, Shinkansen, Subway... sampe becak yang ditarik sama orang pun ada. Kami pun masuk ke terminal Hakata, lalu naik bus nomer 306 menuju Fukuoka Yahuoku Dome. Perjalanan kesana terhitung cukup lama, karena butuh waktu 30 menit. Trayek bus ini terhitung unik, karena melewati beberapa tourist spot seperti Fukuoka Tower, dan Kolam renang. Bus ini juga melewati jalan tol. gue baru sadar kalo jalan tol di Fukuoka pada bagian sisi jembatan tersebut ditutup dengan tembok. mungkin untuk menghindari angin kencang yang bisa ngegeser kendaraan saat melaju kencang.

Sesampainya di Halte Yahuoku Dome, gue takjub sekaligus kedinginan. Harus gue akui, gue salah iseng-iseng main ke Yahuoku Dome di malam hari. Karena suhu di luar masih di bawah nol derajat. Namun, gue berhasil mendapatkan beberapa foto di Yahuoku Dome. anyway, kalo ke Jepang, gue selalu suka berkunjung ke Dome-dome kayak begini. Karena kesan nya megah, apalagi untuk konser berkapasitas 30,000 orang.

Karena cuaca yang tidak mendukung badan kami, maka dari itu, kunjungan ke Yahuoku Dome harus dipercepat. Kami pun bergegas kembali ke Hotel karena angin dingin dan salju udah mulai turun. Adek gue masih norak ngeliat hujan salju, tapi karena muka nya udah keburu merah, jadinya harus cepat-cepat menghangatkan badan. Sesampainya di Hotel Richmond, kami merencanakan perjalanan untuk esok hari. Setelah berdiskusi sedikit, akhirnya kami putuskan untuk melakukan perjalanan ke Nagasaki...

Iya, Nagasaki.... Kota yang pernah hancur lebur di bom atom oleh keserakahan manusia.
gue browsing sehari sebelumnya, Kota Nagasaki adalah warisan UNESCO.
Baiklah.... kami coba telusuri esok.

Wednesday, February 21, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, The Departure

25 Januari 2018
Pada tanggal tersebut masuk satu email yang sudah gue tunggu dari awal bulan. Jadwal sidang akhir master degree yang gue tunggu akhirnya ditetapkan. Pada email tersebut tertulis, Tuesday, January 30th 2018. Butuh perjuangan untuk memastikan jadwal tersebut muncul. Sejujurnya persiapan gue ke Jepang sedikit terganggu karena jadwal sidang yang tak kunjung ditetapkan. Namun, gue bersyukur jadwal tersebut tidak terlalu mepet dengan waktu keberangkatan gue.

30 Januari 2018,  
Thesis defense seminar (istilah sidang akhir di kampus gue begitu hehehe). Pukul 12:30 - 13:30 adalah waktu paling menegangkan. Akhirnya gue bisa membuktikan kalo gue bisa lulus sebelum gue berangkat ke Jepang. Namun masalah berikutnya muncul, dia yang bernama "revisi". ya namanya juga orang sidang terus ngerjain penelitian, pasti ada revisi nya hehehe. Tadinya gue mau ngerjain revisi setelah balik dari Jepang, apa daya gue gundah gulana, jadinya dalam dua hari tersebut gue kebut ngerjain revisian. Alhamdulillah para Dosen sangat mendukung gue, walaupun ada juga yang masih kurang puas dengan revisian gue.

2 Februari 2018,
Sebelum traveling biasanya gue menyempatkan waktu untuk pijet, dan emang udah gue niatin. Namun ada aja yang harus gue kerjain pada hari itu, termasuk revisi dari dosen penguji. Pada akhirnya keinginan untuk pijet badan pun kandas karena revisian hari itu.

3 Februari 2018
Hari yang gue tunggu-tunggu selama dua tahun tersebut tiba. Gue exited banget. Salah satu mimpi gue waktu kecil jadi kenyataan, yaitu naik pesawat ke luar negeri pada malam hari. Entah kenapa buat gue naik pesawat malem-malem itu enak aja, apalagi perjalanan jauh ke luar negeri. Okay mari kita stop sejenak.... gue masih harus ngerjain revisi. Ternyata dosen penguji gue masih belum puas sama revisian gue, dan tinggal satu dosen tersebut yang belum ACC alias accepted revisian gue. Mau tidak mau harus dikerjakan.

Anyway, jadwal penerbangan gue adalah pukul 23:10 malam. jadi gue ke bandara nya sehabis shalat Isya. Waktu yang tersisa tidak boleh gue sia-sia kan, jadi mari kita revisian lagi. Pukul 16:45, gue menyelesaikan revisian gue, dan pada akhirnya gue kirim ke dosen tersebut. Setelah itu gue memutuskan untuk tidak melihat email gue sampai gue pulang ke Jakarta lagi.
Untuk packing bawaan gue sendiri udah aman. Gue pake koper ukuran 28, ya cukup gede lah buat bawa anak kecil di dalam nya hehehehe. Pada kunjungan ke Jepang kali ini, gue membawa dua jaket yang sedang. Oiya, untuk sekedar informasi, buat kalian yang travel ke Jepang awal februari, siap-siap ya kalian digempur sama udara dingin yang gak biasanya. karena di beberapa prefektur masih banyak yang kena badai salju.

Setelah packing aman, termasuk colokan universal di dalam koper. Pukul 19:00 gue berangkat ke Bandara CGK. Orang tua gue mau ikut nganterin, katanya mau ngeliat terminal 3 yang baru itu hehehehe. Setelah check-in, gue bersama Orang tua menunggu di kafe. Ya seperti biasanya, penerbangan ke luar negeri melewati imigrasi. Setelah semua urusan selesai, gue masuk ke ruang tunggu. Disinilah gue dan adek gue berdiam diri selama 1,5 jam, karena boarding masih agak lama. Gue menengok keluar, ternyata sedang ada hujan badai.

Kami baru masuk pesawat pukul 23:20 karena ada sedikit keterlambatan dari pihak operasional bandara. Namun, who's even care?! para penumpang rata-rata keliatan ngantuk. Yaiyalah, jam segitu harusnya mereka udah tidur. Gue juga setelah duduk di pesawat langsung tepar...

and the most exciting seven hours flight begin....
gue sebelumnya sempet minum antimo, langsung tepar. begitu bangun, ternyata udah ada snack di meja gue. Lalu gue melanjutkan tidur saja, sampai jam tangan gue menunjukan waktu subuh.
Gue dibangunkan oleh wangi makanan untuk sarapan. Snack yang dibagikan semalam gak sempet gue makan karena udah keburu tepar. Gue melihat peta penerbangan ternyata pesawat udah lewat dari Osaka, yang artinya sudah dekat ke Tokyo. Gue makin deg-degan. Perasaan gue campur aduk. Dari mules karena air jeruk di bandara CGK sampai mules karena sebentar lagi gue akan kembali menginjak Tokyo. Selesai sarapan gue hanya bisa berkata di dalam hati...

"Dan kini, aku kembali...."

Tuesday, February 20, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, The Prologue

Salam sejahtera untuk kita semua,

Kali ini, gue akan sedikit bercerita tentang salah satu mimpi gue yang jadi kenyataan.
Berkunjung ke Jepang untuk kedua kali nya adalah salah satu mimpi gue, dan perencanaan pun sudah dilakukan sejak dua tahun yang lalu. Ya, dengan kata lain, gue merencanakan tour ke jepang ini setelah gue balik ke Indonesia dari Jepang dua tahun yang lalu. Keinginan gue untuk balik lagi ke Jepang memang sudah tidak terbendung lagi.

Begini kisahnya, Februari 2016, gue sukses berkunjung ke Jepang untuk pertama kali nya. Perjalanan tersebut gue tempuh selama 7 hari bersama kakak gue, dan gue berjanji bakal balik lagi ke Jepang, tahun berikut nya. Namun hal tersebut harus gue kandaskan sementara karena tabungan gue habis untuk perjalanan ke Jepang sebelumnya. Tahun 2016 gue lewati dengan sangat menyenangkan namun gue gagal merencanakan perjalanan ke Jepang karena satu hal dan kebutuhan yang mendesak, termasuk tahun dimana gue belajar untuk master degree.

Memasuki tahun 2017, niat untuk kembali ke Jepang kembali bergejolak (hehehehe). Gue mencoba untuk membuka kembali perencanaan yang udah gue susun sebelumnya. Dimulai dari tiket pesawat sampai itinerary. Pada saat itu gue berniat untuk tidak menggunakan Japan Airlines lagi, karena gue kurang cocok sama pelayanan nya, begitu juga faktor Bandara Narita yang penuh dan membosankan dimana pesawat harus menunggu di apron sampai dua jam sebelum lepas landas, dan akhirnya gue memutuskan untuk menabung lebih giat agar bisa beli tiket Garuda Indonesia. Kenapa Garuda? Karena jadwal penerbangan nya cocok dengan itineraries gue. Berangkat malam hari lebih tepatnya tengah malam, sampai di Jepang pagi hari, dan lewat Bandara Haneda. Gue pengen banget naik pesawat dari Bandara Haneda.

Tahun 2017 buat gue adalah tahun yang menegangkan. Tahun dimana gue berkutat menyelesaikan thesis untuk master degree. Gue membeli tiket pesawat persis 6 bulan sebelum keberangkatan. Dengan kata lain, gue sangat gambling dengan jadwal gue selama 6 bulan ke depan entah apa yang akan terjadi. Orang tua gue sedikit was-was karena 6 bulan itu waktu yang lumayan lama untuk merencanakan perjalanan. Apalagi untuk ke Jepang. Namun, gue meyakinkan Orang tua gue kalo ketika gue ke Jepang bulan Februari 2018 nanti, gue sudah sidang akhir dan lulus master degree. Dengan mengucapkan Bismillah, gue membeli tiket Garuda Indonesia PP Jakarta-Tokyo pada bulan Agustus 2017, dan setelah itu gue langsung desperate wkwkwk. But even i'm in my desperation time, I won't miss my target. Target harus jalan terus. Never give up.

Sebagai informasi untuk pembaca, budget perjalanan gue ke Jepang kali ini sama dengan budget gue dua tahun yang lalu. Rincian nya kira-kira begini:
1. Tiket PP Garuda Indonesia ke Haneda
2. JR Pass Green Class 7 hari
3. Hotel di Fukuoka selama 2 malam
4. Hotel di Osaka selama 2 malam
5. Hotel di Tokyo selama 3 malam
6. Sewa wi-fi portable
7. Kerja keras supaya bisa belanja hehehe
Oiya, untuk Hotel di Fukuoka sama Osaka itu gak termasuk ya, karena perjalanan gue sebelumnya gak nginep di luar Tokyo. Anyway, untuk jumlah total nya, boleh banget diobrolin lewat instagram gue dan kalian juga bisa ngeliat foto-foto gue selama di Jepang, http://instagram.com/myusufmusa #promote #follow

Perjalanan gue ke jepang kali ini bersama dengan adek gue si Yunus yang dengan sengaja gue suruh untuk "izin" gak kuliah selama seminggu. Pada perjalanan ini pula gue sama adek gue gak cuman nyari senang, tapi nyari dosen yang bisa diganggu untuk riset gue. Ya, kali ini gue mau lebih serius untuk kuliah di Jepang. kali ini gue targetin untuk kuliah S3 di Jepang.
Dengan iming-iming kunjungan ke beberapa Universitas di Jepang, adek gue pun setuju dan mau ikutan. Buat gue sendiri sih gak masalah kalo misalnya harus solo traveling ke Jepang. Adek gue menyarankan untuk berkunjung ke Kyoto University dan The University of Tokyo.

Itineraries gue ke Jepang kali ini sebenernya simple, yaitu gue mau berkunjung ke Kyushu dan Kansai. Walaupun cuman dua malam pada masing-masing daerah, setidaknya gue mencoba untuk berkunjung ke sana. Sebenernya gue pengen banget berkunjung ke Hakata, boleh dibilang salah satu kota besar di prefektur Fukuoka ini bikin gue penasaran. alasan gue ke Fukuoka adalah gue mau liat Yahuoku Dome dan beli beberapa merchandise Fukuoka Softbank Hawks. Begitu juga dengan daerah kansai, pada kunjungan sebelumnya, gue cuman mampir doang di Osaka. ngeliat Dontonbori yang hits banget. Pada kali ini gue menargetkan untuk jalan-jalan ke Kyoto dan menginap di sekitar Dontonbori, Namba, Osaka.

Persiapan ke Jepang sempat gue hentikan pada bulan Oktober, dimana gue harus fokus pada kuliah S2 gue. Karena pada bulan Oktober - Desember gue harus magang dan mengerjakan thesis. Beruntung nya, gue sudah booking hotel yang gue incer dengan harga terjangkau dari situs Agoda #promote. gue booking hotel bernama Richmond Hotel Hakata di Fukuoka dan Hotel Sunroute Namba di Osaka. Untuk hotel di Tokyo sendiri masih gue percayakan kepada Mercure Hotel Ginza.

Pada akhir Desember 2017, gue berhasil menyelesaikan thesis gue dan mendaftarkan sidang akhir pada bulan Januari. Selagi mengurus jadwal sidang, gue membeli JR Pass dan perlengkapan lainnya. Sempat terjadi ketegangan pada detik-detik menjelang keberangkatan gue, dimana hingga minggu ketiga januari jadwal sidang akhir gue belum keluar. Memang secara agenda kampus, maksimal tanggal 2 februari diselenggarakan sidang, namun buat gue itu mepet banget sama jadwal keberangkatan gue.

Pada akhirnya jadwal sidang gue ditetapkan pada tanggal 30 Januari. setelah selesai sidang, perasaan lega sekaligus bingung langsung menyambar gue, hal tersebut dikarenakan gue harus ngebut mengerjakan revisi. dosen penguji gue lumayan sabar saat gue pepet untuk ngurusin thesis gue hehehehe, sampai pada hari H keberangkatan tanggal 3 februari 2018, gue masih mengerjakan revisi.

Wednesday, January 10, 2018

Jangan Lupa

Salam sejahtera,

Semoga awal tahun menjadi momentum kebangkitan diri kita untuk lebih baik lagi.
Kemarin tanggal 9 Januari. Ayah gue berulang tahun dan berusia lebih dari dua kali lipat umur gue. Namun bukan perayaan ulang tahun Ayah yang ingin gue bahas.

Ada suatu hal yang membuat gue sedikit linglung. Bukan karena gue menantikan jadwal sidang tesis, atau nilai magang gue belum keluar.

Tapi, suatu "peringatan" dari Tuhan.
Mungkin.

Ini terjadi saat di perjalanan menuju rumah.
Ya , lagi-lagi lampu merah di jalan raya dewi sartika arah cililitan dari kalibata jadi saksi "peringatan" Tuhan tersebut.

Dan, seorang anak itu lagi yang berbicara secara tidak langsung tentang "peringatan" Tuhan tersebut.
gue cuman bisa terdiam. sang anak kecil di lampu merah itu tidak bisa gue temui lagi, dia tiba-tiba menghilang.

si anak tersebut menawarkan tisu seraya berkata, "semoga kita semua masih diberikan kekuatan untuk mengejar rejeki dan berkah Allah."

Mungkin pembaca bisa berpendapat, "Ah, itu hanya bualan." tapi momen seperti itu yang bisa menjadi suatu titik balik dalam hidup gue.

"Peringatan" Tuhan juga disampaikan dalam khutbah Jum'at kemarin, saat gue berada di Yogyakarta. Khutbah Jum'at terbaik yang gue dengar seumur hidup dan menurut gue berkaitan dengan kejadian anak kecil kemarin. beliau menjelaskan tentang "resep" bahagia.
dan
semua
dimulai
dengan

bersyukur.

maafkan saya, ya Allah

segala puji bagi Allah.