Tuesday, June 17, 2014

#Indonesia : Lecet Yang Menguatkan

Selamat pagi...

dalam fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, aku pun menyadari ada yang salah...
ada pula yang benar, dalam hidup yang berputar ada saatnya tersenyum, ada saatnya tertawa...
namun aku hanya ingin kebahagiaan, semua orang ingin bahagia, bagaimanapun kondisi mereka...
asal bahagia, mereka bisa hidup tenang...

membedakan antara anak Adam AS, yang lahir dari keluarga yang bisa membeli apapun dengan yang lahir dari keluarga pekerja keras memang sangat berbeda...
aku melihat muka congkak dan sombong mereka dari anak yang berasal dari keluarga kaya itu, entah orang tua nya mengajarkan apa ke anaknya, tapi aku tidak suka dan ingin ku hantam muka mereka ke aspal...
agar mereka tahu dan mengerti rasanya terjatuh dan perihnya luka lecet perjuangan Orang tua nya...

aku bisa merasakan mereka yang hidup dari kerja keras, berbeda dengan mereka yang hanya bisa menunjuk dan memerintah... muka lusuh, muka capek karena perjuangan tidak akan pernah hilang cahayanya...
cahaya masa depan cerah yang dijanjikan oleh Tuhan...

melihat para pekerja keras, ingin sekali diri ini bergabung, membantu mereka untuk mewujudkan impian mereka...
merangkul mereka, bekerja sama untuk masa depan yang lebih baik...

untuk mereka yang terbiasa sakit,
untuk mereka yang terbiasa terjatuh, tergelosor lecet di aspal atas kejamnya kehidupan...
untuk mereka yang terbiasa bekerja di saat orang lain tidur, dan tidur di saat orang lain bekerja...
untuk mereka yang selalu disalahkan karena mereka tidak mempunyai harta...
untuk mereka yang terbiasa tersenyum dikala dirinya sakit...
untuk mereka yang terbiasa membantu dikala kesusahan...
untuk mereka yang biasa bersungguh-sungguh...

Untuk para pekerja keras, percayalah...
Tuhan tidak akan pernah bohong dan ingkar janji...
Waktu kalian akan segera tiba...
Waktu dimana kalian akan merasa kebahagiaanlah dunia kalian...

"Karena setiap kesungguhan itu tidak akan berakhir dengan sia-sia"

Muhammad Yusuf Musa
Jatinangor, 17/6/2014

Tuesday, June 03, 2014

#Indonesia : Cerita Tentang Impian

Selamat malam....

dalam suatu hari ku menemukan sebongkah impian,
impian untuk memajukan diri sendiri, syukur-syukur orang lain bisa mengikutinya...
namun semulus-mulusnya landasan pacu Bandara di Dubai, pasti ada bagian terjalnya...
tidak ada yang bisa memastikan kalau hidup itu enak, yang enak itu hanyalah berangan...

teringat saat kecil, hidup begitu indah,
yang ku lakukan hanyalah tertawa, menangis sejenak, tertidur, terbangun, lalu kembali tertawa...
pada saat itu aku tidak tahu Ayah dan Bundaku sedang menghantam kerasnya karang kehidupan...
berjuang dengan mempertaruhkan nyawa...

menginjak remaja,
nilai-nilai yang dulu ku anggap sebagai marahan dari Ayah Bundaku mulai terasa kebenarannya...
nilai-nilai yang lebih mendidik dibanding angka nilai di kertas rapor ataupun transkrip nilai mahasiswa...
nilai yang apabila kita mempelajarinya akan membuat kita sadar, merunduk malu, lalu berlari kencang untuk menggapai impian tersebut...

saat pekerjaan pertamaku dilaksanakan,
bangga dan haru, diri ini sudah bisa menghasilkan sesuatu...
saat diri ini mulai memeluk aroma uang, akupun tersadar...
bahwa setan-setan kertas, koin, dan emas tersebut rupanya yang membuat orang berbuat seenaknya...

menginjak dewasa,
pada malam ramadhan itu, pertama kali aku tinggal sendiri...
menjaga amanah dan nilai-nilai keluarga...
saat itu aku hanyalah anak manja yang merasa dipaksa oleh Allah,
dipaksa untuk sadar...
saat waktu sahur, Allah menegurku dengan rasa sakitnya tusukan dinginnya angin malam...

akupun tersadar, teringat rasa akan saudara yang masih kekurangan...
ternyata rasa sakit yang Allah berikan pada saat itu, belum sesakit mereka yang setiap hari kelaparan...
mereka yang setiap hari kekurangan... malu rasanya diri ini...

untuk mereka yang tidak pernah mengerti....
untuk mereka yang membuang perasaan...
untuk mereka yang tidak sopan terhadap kehidupan....
untuk mereka yang tidak sanggup untuk hidup...
untuk mereka yang meremehkan nilai Allah atau Tuhannya...
dan...
untuk mereka yang meremehkan kami...

mampuslah! enyahlah kalian! di dalam sebuah penyesalan tiada akhir...
dari kami yang selalu optimis dan bersama Tuhan kami masing-masing...
dari kami yang tidak akan pernah berharap kepada bajingan-bajingan deposito...
dari kami yang tidak akan pernah berharap kepada penjilat ludah sendiri...
dari kami yang membenci orang munafik.


Muhammad Yusuf Musa
03/06/2014