Wednesday, May 20, 2015

#Analisis: Demo Mahasiswa Dianggap Biasa Saja

Selamat pagi...

salam sejahtera,

lagi pengen nulis agak serius nih, sengaja pagi-pagi, fresh dan cerah.

kali ini gue mau ngebahas tentang Mahasiswa yang suka demo, kalo mereka sendiri nyebutnya sih "Aktivis" entah gue sendiri bingung kenapa "demo= aktivis" atau "organisasi= aktivis"

gue sengaja nulis ini langsung di blog gue, selain sifatnya lebih personal, blog ini sudah jadi website jadinya tambah personal lagi hehehe.

"demo= aktivis" atau "organisasi= aktivis"
gue heran, apakah kalo kita gak ikut demo kita gak aktif?
apakah kalo kita gak ikut organisasi kita gak aktif?

merajuk pada kewajiban mahasiswa adalah *ehem* kuliah, karena orang tua sudah membiayai nya.
berarti kalo kuliah aja dibilang gak aktif dong?
beberapa interview yang gue jalani buat intern, pertanyaan mereka terhadap mahasiswa atau fresh grad sama,

"kamu ikut organisasi? pada divisi apa?
lalu diakhiri dengan melihat transkrip dan pertanyaan inilah yang keluar
"apa kamu sudah puas dengan nilai segini?"
normalnya begitu. silakan persepsikan masing-masing.

setelah intro tadi mari kita telaah kembali, kenapa mereka mahasiswa yang suka menyebut diri mereka aktivis masih terlena dengan kejayaan mereka tahun 1998 di Indonesia.

berkali-kali mereka menyebut "mahasiswa=agent of change"
tagline itu juga mahasiswa 1998 pakai pada saat menyerbu gedung DPR.
dan ternyata mahasiswa pada saat itu dipandang keren sama masyarakat lainnya.

setelah gue ngelihat perkembangan jaman, meskipun gue lahir tahun 1993 dan pada saat 1998 gue baru TK ngeliat orang dibunuh di pinggir jalan, dan sekarang gue masih mahasiswa.
ternyata pantaslah mahasiswa pada jaman 1998 ke bawah tersebut mendapatkan simpati dari masyarakat, mereka yang aktivis menjadi harga paling tinggi.

dan pada tahun ini, mahasiswa yang "aktivis" tersebut dipandang sebelah mata oleh masyarakat, banyak elemen masyarakat yang menilai, "ngapain sih mereka demo?" "ngapain sih mereka capek-capek teriak panas-panasan? toh memang sulit juga buat didengar" ada lagi yang berpendapat seperti ini, "kalo memang mereka aktivis, seharusnya mereka gak cuman mengkritik aja, tapi mereka membuat karya nyata" dan macam-macam pendapat sinis.

mereka mendapatkan pendapat tersebut, alasannya adalah pada tahun 1998 ke bawah, syarat pekerjaan tidaklah seberat tahun 1999 ke atas.
potongan-potongan lowongan kerja pada tahun 1997 ternyata masih menjadikan pegawai tetap di kantor hanya pada "minimal lulusan SMA atau setaraf, bisa membaca, menulis, dan berhitung. keterampilan tambahan yaitu pengoperasian komputer."

sementara pada tahun 2003 syarat dan alur penerimaan kerja berubah menjadi "syarat lulusan S1 dengan pengalaman kerja sekian tahun, keterampilan berbagai bahasa, IPK sekian (yang ini formalitas), keterampilan tambahan bisa design."
ternyata menjadikan perbedaan persepsi masyarakat sekarang jauh berbeda daripada persepsi masyarakat sekitar tahun 1998 ke bawah.
dan persepsi masyarakat tentang, "if you don't work, you'll don't get anything." atau "kalo elo gak kerja ya elo gak dapet apa-apa." menjadikan salah satu alasan.

taraf dan tarif hidup pun di Jakarta semakin besar dan mahal, pantaslah masyarakat berpendapat negatif tentang "mahasiswa yang suka demo", akan tetapi ternyata banyak mahasiswa yang memilih bertahan untuk kuliah dan aktif dalam keterampilan mereka masing-masing, bersosialisasi dengan masyarakat, memberikan bantuan, lalu setelah lulus mereka berubah menjadi manusia yang matang dan berpengalaman, itu semua akan terlihat dari wajah-wajah mereka yang berkerja keras, berangkat pagi pulang pagi, mereka yang memilih untuk efektif dan produktif pada pekerjaannya, gue sangat mengapresiasi dan salut kepada mereka yang bekerja keras.

gue juga sangat salut dan mengapresiasi mahasiswa yang aktif dalam mengajar dan mengejar kebutuhan orang yang membutuhkan, pergerakan positif mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat justru bisa menjadikan pandangan positif ke masyarakat, menghapuskan citra bahwa "mahasiswa tukang demo gak bisa apa-apa."

silakan lawan pemberitaan negatif dari media massa tentang mahasiswa dan menghapus kabar baik yang seharusnya disebarkan, namun gue rasa semua orang yang cerdas juga tahu ada sisi lain yang mereka sembunyikan,
toh kebaikan sekecil apapun juga pasti terlihat, dan pasti terbalas dengan kebaikan.

20/05/2015

MYM

Wednesday, May 06, 2015

#Story: Barak Perburuan

Pagi...
Teruntuk teman-teman dari Barak Merah...

Dari perjalanan menuju Jakarta tulisan ini gue posting...
mengalun di pikiran gue, kenangan terbayang empat tahun yang lalu...

29 Juni 2011 (kalo enggak salah) pengumuman SMUP memutuskan bahwa gue di terima di Unpad.
senang sedih bercampur jadi satu.
"Jatinangor ya?" itulah pertanyaan pertama yang muncul dari pikiran gue.
tetapi akhirnya gue memutuskan untuk lanjut ke kota transit tersebut.

21 Juli 2011, bersama keluarga mencari tempat hunian gue untuk melanjutkan studi di Unpad, terlihat bimbang di muka gue pada saat itu. namun akang-akang mengantarkan kami ke sebuah kosan yang bernama "Red House" letaknya lumayan jauh dari keramaian Jatinangor, namun menuju kampus sangatlah dekat.

kami angkatan 2011 yang memenuhi kosan tersebut setelah para senior lulus atau pindah kosan... karena temannya sudah lulus.

gue pun bimbang gimana kehidupan gue selama empat tahun ke depan pada saat itu.
namun ternyata kami pun tak tinggal diam...

masih ingat rasanya kami nonton bola, Final Community Shield mendekatkan kami.
Pablo, Bagus, Azer, Yahya, Nobon, Gilang, Vani, Fadhil, Ijal, Bimo, Adit, dan gue. berteriak "GOAAALL!!!" bersama-sama.
dari nobar sampai main futsal bareng, sparing lawan kosan-kosan tetangga sampai fakultas lain, kami jalani.
mulai dari kami dimarahi (Alm) Ibu kosan juga pernah. hingga ribut masalah bandwith yang harus rela kami bagi-bagi pada malam hari.

tahun ke-2, banyak sekali yang datang, banyak sekali yang pergi.
tahun ke-3 begitu pula

banyak sekali kenangan yang terlintas, namun memasuki semester ke-6...
gue harus banyak terpisah dengan teman-teman, tak sempat menanyakan kabar mereka, mengobrol seperti dulu pun tak sempat.
kami pun menjadi berkubu, meskipun kami masih bermain bersama.
tetap kami mempunyai tujuan akhir yaitu,....... Lulus.

gue ingat dulu, saat pertama kali kami mengobrol bersama, menentukan cita-cita yang nantinya akan mengisi kehidupan pada saat kuliah, kami merasa kalau kuliah 4 tahun itu masih lama.

sekarang, tahun ke-4 akhirnya datang juga, teman-teman yang bersama gue membicarakan cita-cita masa kuliah ternyata sudah menyelesaikannya... satu per satu mereka lulus.

gue ikut senang, hari ini mereka di wisuda. hari ini mereka menemukan tujuannya.
dan Red House pun bangga, telah menjadi bagian dari mereka.
mereka yang memiliki cita-cita yang terbaik.

mereka yang hidupnya berburu kebaikan.
dan mereka yang menempa dirinya untuk menjadi dewasa dan matang.

Red House bagaikan sebuah barak perburuan
tempat hunian para survivor, mengubah diri menuju kebaikan.

Selamat lulus dan wisuda teman...
suatu hari nanti, kalau ada waktu senggang, mari kita mengobrol lagi...
tenang masa depan yang akan kita raih.

06/05/2015

MYM