Thursday, April 12, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, Jangan Ada (Lagi) Nagasaki Di Antara Kita (Day Two)

5 Februari 2018

Kami memulai perjalanan menuju Nagasaki sedikit telat karena badai salju. Kami yang awalnya reserve kereta pukul 09:00 JST, harus memundurkan jadwal jadi 10:00 JST. Pagi yang sangat dingin di Hakata, mulut gue udah berasap terus sedari gue keluar hotel, jalan kaki menuju stasiun. Gue melihat thermometer di stasiun menunjukan angka -1 derajat. Jaket yang gue pakai dari kemarin benar-benar tidak mampu menghangatkan paling tidak bagian torso gue. Dingin terasa menembus kalbu hehehehe.

Gue melihat tukang ramen dan udon di peron stasiun. Wangi yang sangat harum, adek gue sempet bertanya kalo di Hakata ini ramen nya boleh dimakan apa enggak, jawaban gue tetap enggak, malah lebih gak mungkin. Karena majoritas ramen yang ada di Hakata, Fukuoka pasti "Tonkotsu Ramen" sebagai kearifan lokal mereka. Begitu juga Udon dengan kaldu "Chashuw" alias daging babi panggang nya. Kenapa gue tau hal kayak gini? karena gue sering nonton acara travel to japan gitu hehehe, lumayan buat nambah informasi. Akhirnya kami menunggu kereta dengan memeluk dua botol hot chocolatte dari vending machine. Paling tidak tangan kami tidak membeku seraya berharap kereta datang lebih cepat.

Pukul 09:50 JST kereta yang kami tunggu tiba juga, nama kereta nya "Kamome", kereta dengan gaya futuristik termasuk ke dalam jajaran kereta cepat di Jepang, namun kelas nya bukan Shinkansen, karena top speed nya cuman sampai 130 km/h. Anyway, kelas kereta Kamome ini setara limited express alias kereta semi-Shinkansen, dan model kereta Kamome adalah yang diadu sama Jepang dan China untuk membangun nya di Indonesia pada trayek Jakarta - Bandung.

Kami langsung masuk ke gerbong green class yang telah dipesan sebelumnya. Interior kereta ini sangat old school dan menurut gue terlalu kuno untuk green class nya hehehehe. Begitu kereta jalan, gue mencoba untuk menelusuri kereta ini, dan ternyata menurut gue, ordinary class nya lebih nyaman daripada green class. meskipun green class punya toilet sendiri. Perjalanan kami menuju Nagasaki ditempuh selama 1 jam 50 menit. Selama perjalanan, entah kenapa gue kedinginan, padahal heater di kereta cukup tinggi suhu nya. Tolak angin yang gue minum terasa tak berdaya pada perjalanan gue di Kyushu. Kereta Kamome dilengkapi vending machine di gerbong nomer 5 dan selasar pada setiap pintu masuk gerbong. Selasar pada kereta Kamome ternyata berfungsi untuk penumpang yang ingin mengangkat telepon atau mereka yang sekedar ingin menghangatkan diri aja.

Sesampainya di Nagasaki, kami disambut oleh Hujan salju yang cukup tebal. Gue takjub sama Nagasaki, kota nya sangat berbeda dari beberapa kota di Jepang yang pernah gue kunjungin. Nagasaki punya yang namanya "Street car" atau kalo orang Indonesia nyebutnya "Trem" ituloh kereta listrik yang rel nya di tengah jalan. Pembayaran di Nagasaki juga menggunakan IC card, namun jangan harap kalian bisa memakai Suica atau sejenisnya, hal ini dikarenakan Nagasaki Government sedang mencanangkan diri sebagai kota mandiri, memproduksi barang dari baju hingga IC card. IC card di Nagasaki adalah khusus penduduk setempat. Traveler bisa juga kok membeli nya, namun harganya agak mahal, sekitar 3,000 yen atau 350 ribu Rupiah. Fungsi IC card ini untuk sementara hanya sebagai pembayaran transportasi saja. IC card belum dapat digunakan untuk berbelanja.

Dari Nagasaki Station, kami langsung menuju Atomic Bomb museum. Nagasaki adalah kota bersejarah, karena Kota ini pernah rata oleh bom atom pada tahun 1945. Gue sebelumnya cuman baca sampai kenapa Jepang menyerah pada "Sekutu" aja, gak sampai alasan Nagasaki di bom atom.
di Atomic Bomb museum ini ternyata selalu marak kampanye senjata dengan berbahan nuklir. Di museum ini, dijelaskan semua nya.

Dalam sudut pandang kemanusiaan, pada saat perang gak boleh membunuh warga tidak berdosa, apalagi sampai nge bom kota tersebut hingga penduduknya musnah. Serius, kata "musnah" disini adalah real, karena US alliance udah gak sanggup lagi nahan napsu mereka sebagai jawara Perang Dunia ke-2.

Nagasaki dijadikan sasaran bom atom karena salah satu gudang senjata terbesar di Jepang. Sebetulnya ada beberapa kandidat kota di Jepang yang menjadi sasaran, dan salah satunya adalah Kyoto.

Diorama dan bentuk bom atom tersebut dipajang oleh Museum. ada juga data penggunaan senjata nuklir, dimana USA pengguna senjata nuklir terbanyak. Sementara Korea Utara yang sering diberitakan, termasuk negara dengan penggunaan senjata nuklir tersedikit. Dimana USA menggunakan sekitar 157 misil, Korea Utara sekitar 20 misil. Media sudah membohongi masyarakat.

Setelah gue melihat-lihat Atomic Bomb Museum, gue sebagai perwakilan dari Indonesia, berikrar untuk melawan penggunaan nuklir pada senjata dan peperangan. Perdamaian harus disebarkan ke seluruh dunia. Perang harus berhenti. Gue adalah salah satu dari warga dunia yang menandatangani petisi anti senjata nuklir di Dunia.

Nagasaki adalah kota yang indah. 73 tahun berjuang membangun kembali peradaban dan warga yang "selamat" dari bom atom. Gue mengunjungi taman-taman yang sangat rapi. Setelah puas dengan Nagasaki day trip selama 6 jam. gue memutuskan untuk kembali ke Hakata.

Disinilah inti cerita hari ini, disaat gue sedang di kereta menuju Nagasaki Station, kami melewati jembatan yang cukup panjang, bentuknya gak beda sama Pasopati. Lalu, gue melihat ada seseorang yang berjalan di sana, awalnya gue mengira orang tersebut sedang jalan-jalan santai. Tiba-tiba pria tersebut naik ke pembatas jalan lalu menjatuhkan diri terjun ke laut.

Gue shock, sementara penumpang lain nya gak sadar kalo ada orang yang bunuh diri di jembatan tersebut. Kunjungan ke Nagasaki masih berbekas sampai tulisan ini diturunkan. Kenapa ada manusia yang seperti itu ya?

Gue berharap jangan ada lagi Nagasaki di antara Kita, entah apapun kejadian nya, mau itu bom atom atau orang yang bunuh diri.

Setelah melihat orang bunuh diri, gue malah gak bisa fokus, waktu menunjukan pukul 14:30. Kami hampir ketinggalan kereta karena antrian tiket yang lama. Jadi ceritanya, ada sepasang lansia ingin menukar tiket keberangkatan, namun proses nya agak lama. Gue menyuruh adek gue untuk menunggu di dekat pintu keluar supaya bisa langsung lari masuk kereta karena waktu keberangkatan udah mepet. Ternyata dugaan gue benar, si Petugas ngasih tiket untuk pukul 14:45, dimana saat itu kereta harus berangkat. Kami langsung lari kayak orang kesurupan, karena suara bel kereta berangkat sudah berbunyi. Beruntung sekali kami, setelah masuk kereta, pintu langsung tertutup saat itu juga. Jika kami tertinggal, kami harus naik kereta selanjutnya pukul 4 sore, dan menurut perkiraan cuaca, malam ini ada badai salju di sekitaran Kyushu.

Sesampainya di Hakata, ternyata adek gue gak ngeliat kejadian orang bunuh diri tersebut. Gue hanya bisa berdoa, supaya kami selamat dalam perjalanan hingga pulang ke Indonesia. Kami sampai di Hakata sekitar pukul 5 sore. Gue masih ingin jalan-jalan keliling Fukuoka, dan beli beberapa merch Softbank Hawks membuat kami langsung bergegas menuju Dugout di Yahuoku Dome. Cuaca sore yang menurut gue sangat dingin, membuat gue meringis kesakitan. Serius, rasanya kayak disilet tapi gak berdarah. Rasa sakit gue bertambah ketika kami membaca papan informasi kalo toko merch tersebut tutup dan baru buka kembali esok hari. Gue baru inget kalo bulan Desember sampai Februari itu emang waktu libur musim dingin untuk klub baseball di Jepang. Musim berikutnya baru dimulai sekitar bulan Maret hehehehe. Dengan rasa kecewa kami balik ke Hotel, untuk merencanakan perjalanan esok hari.

Cuaca yang sangat dingin di Hakata, gue merasa kalau malam nya kami gak boleh keluar Hotel, kami beruntung sudah mempersiapkan bekal untuk esok hari dan esok pagi. Perkiraan cuaca tersebut benar, malam itu Hakata badai salju, suhu sampai - 5, dan orang Indonesia dilarang keras ke luar hotel hanya dengan sarungan aja.

Esok hari kami harus sudah check out dan berpindah hotel ke Osaka. Akan tetapi, gue gak mau pulang dengan tangan kosong di Hakata. Akhirnya kami merencanakan tetap nekat ke Yahuoku Dome sekali lagi untuk belanja merch Softbank Hawks.

I'm a big fan, and no one can stop me. LOL!

No comments:

Post a Comment