Monday, July 09, 2018

#MusaTravel: Japan Tour 2018, Ini Tokyo, Akan Tetapi Masinis Juga Manusia (Day Five)

8 Februari 2018

Pagi dengan perasaan yang berat untuk meninggalkan kansai. gue masih belum move on dari kemarin. gue melihat ke arah jam di atas meja, ternyata sudah cukup pagi untuk rush hour warga setempat. Suhu masih 5 derajat di luar ruangan, namun orang-orang sudah sangat sibuk keluar masuk stasiun. Gue merenung seraya menikmati tuna teriyaki yang gue beli semalam. Pada saat liburan seperti ini rasanya gue tidak peduli dengan berat badan. Over-eat istilahnya, tapi diet juga tak ada gunanya dikala banyak makanan enak.

Kaki gue sudah bisa dibilang bengkak, gue bersiasat gimana caranya untuk ke Shin-Osaka station tanpa harus meringis. Sebenernya itinerary gue ke kyoto kemarin masih banyak yang belum dikunjungin. salah satunya Fushimi-inari Temple. Dimana orang-orang pada kesana duluan, sementara gue malah ke Arashiyama duluan. But, hal itu gue simpan untuk kunjungan gue ke Jepang berikutnya.

Kami beristirahat di hotel, sarapan dengan makanan yang kami beli semalam. Gue gak mau liburan ini berakhir dengan cepat, persiapan yang gue lakukan hampir 2 tahun untuk liburan selama 10 hari. Gue bertekad untuk pindah ke Kyoto atau wilayah kansai lainnya. Gue harus lebih sering ke Jepang.

Pukul 09:00 kami sudah check-out, ternyata kaki gue masih bisa diajak jalan. Lalu, kami segera menuju stasiun untuk pindah ke Tokyo. Perjalanan kali ini sangat berkesan, terutama saat pindah-pindah kota. Kami menggeret koper masing-masing. gue merasa ada yang gak beres sama roda koper yang gue pake. Tapi, Alhamdulillah semua lancar. Anyway, kami sengaja tidak berangkat pagi-pagi seperti hari sebelumnya, karena rush hour di Osaka lebih parah dari Fukuoka.

Perjalanan yang lancar menuju Shin-Osaka, sekali lagi gue berada di Shin-Osaka. Sebenarnya gue ingin lebih lama di Osaka. Karena di Kota ini gue gak sempat explore lebih jauh. Gue akan selalu mengunjungi Osaka kapanpun kesempatan gue ke Jepang yang akan datang.

Kereta kami pukul 10:20, masih ada sedikit waktu untuk melihat-lihat Osaka sebelum pindah ke Tokyo. Kami sempat membeli ekiben untuk brunch. lalu, kami menunggu di peron. ternyata kereta menuju Tokyo sudah menunggu, kami pun masuk lalu berpisah dari Osaka. selama perjalanan gue selalu menghela napas. Gue masih sedih karena liburan akan berakhir. Kami pun menuju Tokyo untuk menyimpulkan liburan kami.

Pukul 12:20, kami sudah sampai di Tokyo. Pikiran gue flashback ke saat-saat yang menyenangkan gue beli JR Pass dan Sewa Wi-fi, lalu gue deg-degan karena jadwal sidang Master degree yang mepet dengan hari keberangkatan, lalu gue mengingat gimana excited nya gue ke Bandara untuk penerbangan malam hari ke Tokyo hingga saat ini, hari pertama kami sampai di Tokyo.

Gue mendadak melankolis. Damn! rasanya gue harus pindah ke Jepang. I should push myself forward. Setelah perenungan tersebut, kami menuju Mercure Hotel Ginza. well, gue balik lagi ke Tokyo dan hotel yang sama. Lucunya resepsionis nya masih sama hehehe.

Awalnya gue ragu apakah kami bisa early check-in, dan ternyata kami diizinkan oleh resepsionis, karena kami member hehehehe. Lalu, kami beristirahat sejenak sambil merencanakan jalan-jalan di Tokyo. Well, akhirnya gue memutuskan untuk ke Tokyo University dulu. Adek gue udah penasaran. Gue pun mengecek rute, dan kami pun menuju Tokyo daigaku.

Hari terlihat hampir senja, gue mendadak melankolis lagi, sambil meringis karena kaki gue masih bengkak hehehe. Pada saat menuju Tokyo university, gue melihat ternyata rute tersebut, melewati Korakuen station alias Tokyo Dome station. Mendadak kami langsung turun sejenak untuk melihat tokyo dome lagi hehehe.

Tidak ada yang berbeda dari Tokyo dome, tetap megah, perkasa dan impian semua musisi di Jepang. Anyway, kebetulan di Tokyo dome sedang ada pameran alat makan dan dapur, Ibu gue penasaran nyuruh kami masuk ke sana. Harga tiketnya mahal banget, sekitar 2,500 yen hehehehe. Di tokyo dome, gue sempet mampir ke toko merch, Yomiuri Giants. Awalnya gue sempet deg-degan karena jaket yang gue pake adalah jaket resmi dari Softbank Hawks. Namun, karena supporter di Jepang sangat bersahabat, gue sedikit tenang.
Oiya, sebenarnya gue mengincar jersey dari tim baseball Hokkaido Fighters, namun setelah gue cek, ukuran baju nya gak ada yang cocok hehehe. Secara ukuran gue dari L jadi M untuk jersey tersebut hehehehe. Ya sudah akhirnya gue ikhlaskan saja hehehe. Sesi foto di Tokyo dome adalah hal wajib, gue melakukannya dengan jaket Fukuoka Softbank Hawks gue hehehe, well, rasanya kayak jadi bobotoh (fans persib) yang foto di kandang (stadion) nya persija.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Tokyo University. Ternyata lingkungan kampus nya mirip banget kayak Kyoto Univ, keren banget. Gue melihatnya hanya bisa berdoa saja. semoga gue bisa tinggal di Tokyo atau Jepang suatu hari nanti. Kunjungan kami tidak terlalu lama, karena kaki gue sudah perih. kami perlahan berjalan menuju stasiun.

Pada saat kami keluar stasiun untuk menuju ke Tokyo Univ, kami mencium wangi sedap ten-don alias tempura-don, alias nasi pake gorengan hehehe. Akan tetapi kami harus kehilangan arah untuk menuju toko tersebut. Lagipula, kaki gue udah gak tahan pengen duduk. mungkin kalian yang membaca cerita ini akan males baca, karena gue banyak mengeluhkan kondisi kaki gue, namun hal tersebut benar-benar terjadi.

kami terus berjalan menuju stasiun, lalu suatu hal terjadi. Awalnya kami mengira bahwa keterlambatan dalam hal apapun di Jepang merupakan suatu sikap yang memalukan, termasuk kereta. Kami memasuki stasiun, lalu gue mendengar sebuah pengumuman bahwa kereta yang akan kami naiki harus delay. gue liat hanya turis saja yang cuek dengan pengumuman seperti itu. setelah gue menjelaskan apa yang terjadi, adek gue malah bilang, "tungguin aja bang, kan lumayan bisa liat orang jepang minta maaf ke orang indonesia hehehehe"

keterlambatan merupakan hal yang memalukan bagi orang Jepang. mereka sadar bahwa waktu tidak bisa digantikan oleh materi apapun. gue merasa malu akan hal itu, karena pada saat gue di stasiun dan mendengarkan pengumuman tersebut gue malah merasa maklum, sementara gue melihat warga Jepang memilih untuk putar balik dan mengganti rute. Mungkin karena gue tinggal di Indonesia, dimana yang secara tidak sadar masyarakatnya terlatih untuk "procrastination" alias mengundur-undur waktu, alias ngaret hehehe. gue maklum melihat kerja keras para masinis berusaha untuk tepat waktu, tidak boleh telat satu detik pun. ya, gue tau kok meskipun di Tokyo, masinis kan juga manusia.

Setelah kejadian tersebut, kami memutuskan untuk keliling Ginza, dan karena gue penasaran sama Yoshinoya di Jepang, kami pun mencoba untuk makan disana. Well, lagi-lagi kami harus makan tuna teriyaki hehehe. Ginza terlihat sepi saat pukul 9 malam, lagipula ini hari kerja. Lelah berkeliling Ginza, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. karena besok gue akan kembali ke kota dimana gue jatuh cinta pada kesederhanaan nya. ya, kalian pasti tau betapa gue cinta dengan kota ini.

Niigata.

Akhirnya makan seafood segar-murah-enak hehehe.

No comments:

Post a Comment